Ditinggalkan dan Ditolak

Pernahkah kamu merasa selalu ditinggalkan atau diabaikan dalam hubungan, meskipun kamu gak tahu kenapa? Atau mungkin kamu merasa sangat takut ditolak, bahkan sebelum hal itu terjadi? Nah, ini sering kali berakar dari trauma penolakan yang kita alami di masa lalu.

Orang yang mengalami abandonment atau penolakan, seperti ditinggalkan oleh pasangan atau orang tua di masa kecil, secara tidak sadar cenderung menarik hubungan yang mengulang pola yang sama. Mereka biasanya akan tertarik pada orang-orang yang secara emosional menjauh atau bahkan akhirnya meninggalkan mereka, meskipun mereka tidak sengaja mencari hubungan yang menyakitkan. Kenapa bisa begitu?

Itu karena trauma ini meninggalkan getaran emosional dalam diri mereka. Kita semua adalah energi, dan energi ini bisa kita rasakan, baik secara sadar atau gak sadar. Jadi, meskipun orang yang kita temui gak secara langsung menunjukkan tanda-tanda untuk mengabaikan atau meninggalkan, mereka bisa merasakan ketakutan dan kecemasan kita terhadap penolakan tersebut, dan akhirnya perilaku mereka bisa mencerminkan hal itu. Pola ini bisa terus berulang jika kita gak menyadari dan menghadapinya dalam shadow work.

People-Pleasing

Pernah gak sih kamu merasa harus selalu menyenangkan orang lain agar mereka menyukai kamu atau memberi perhatian lebih? Atau mungkin kamu merasa sangat perlu diterima, bahkan jika itu berarti mengabaikan perasaan atau kebutuhan diri sendiri? Ini adalah contoh dari pola people-pleasing yang sering muncul ketika seseorang tumbuh dalam lingkungan di mana mereka gak merasa diperhatikan atau dihargai oleh orang tua mereka.

Misalnya, jika orang tua di rumah selalu mengabaikan atau menanggapi dengan dingin, anak-anak yang tumbuh dalam kondisi ini bisa mengembangkan frekuensi untuk menyenangkan orang lain agar mendapat perhatian atau persetujuan. Mereka merasa harus melakukan segala cara supaya bisa dilihat atau disukai—entah itu dengan memenuhi harapan orang lain atau menyembunyikan perasaan mereka sendiri. Hal ini semakin diperburuk dengan adanya media sosial di mana jumlah like dan pengakuan sering kali menjadi ukuran penting untuk rasa diterima.

Pola ini sering kali terbentuk sejak masa kecil. Misalnya, kalau seorang anak merasa bahwa perhatian atau kasih sayang orang tua hanya diberikan jika mereka menuruti perintah, selalu berbuat baik, atau menyenangkan orang tua, maka anak ini akan belajar bahwa kasih sayang itu harus didapatkan dengan cara menyenangkan orang lain. Jika orang tua atau figur otoritas lainnya gak cukup memberikan perhatian atau kasih sayang, anak ini biasanya akan terus-menerus merasa bahwa menyenangkan orang lain adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan perhatian dan rasa dihargai.

Karena kebiasaan ini terbentuk sejak kecil, saat kita dewasa, kita jadi merasa terlalu fokus pada kebutuhan orang lain sampai melupakan diri sendiri. Dalam hubungan pribadi atau pekerjaan, orang yang punya pola people-pleasing ini biasanya lebih suka mengorbankan diri untuk menyenangkan orang lain, bahkan jika itu merugikan diri mereka sendiri.

Trauma Masa Kecil yang Belum Sembuh

Salah satu bentuk trauma yang paling mendalam adalah trauma emosional yang terjadi di masa kecil, seperti pengabaian emosional atau kekerasan emosional. Hal ini meninggalkan bekas dalam diri kita, bahkan jika kita sudah dewasa dan berusaha melanjutkan hidup. Trauma ini bisa menyebabkan kita merasa gak layak untuk mendapatkan cinta atau perhatian, dan ini mempengaruhi cara kita menjalin hubungan dewasa.

Seseorang yang mengalami pengabaian emosional atau kekerasan emosional di masa kecil akan cenderung menarik hubungan di mana mereka merasa gak diperhatikan atau gak terlihat. Misalnya, mereka bisa tertarik pada pasangan yang mengabaikan kebutuhan emosional mereka atau bahkan menunjukkan sikap tidak peduli. Apa yang terjadi? Karena luka emosional tersebut belum disembuhkan, energi atau getaran yang terbawa dari masa kecil akan menarik orang-orang dan situasi yang mencerminkan luka itu.

Trauma masa kecil ini adalah bagian dari bayangan kita yang perlu dihadapi. Bagian dari diri kita yang merasa tidak layak atau tidak berharga perlu diakui dan disembuhkan. Tanpa itu, pola ini akan terus terulang dalam hubungan yang kita jalani.